You’ll Miss It When It’s Gone

Banyak sekali pepatah, internet quote, atau meme yang selalu mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas semua apa yang kita punya sekarang, karena pasti, kita hanya akan bisa menyadari dan menyesali itu ketika mereka sudah tiada, menghilang. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat, kalau penyesalan masih sekolah, mungkin akan sering disetrap guru.

Dan, kehilangan tiba-tiba itu terjadi beberapa minggu lalu. Saat itu saya baru saja sampai di rumah dan langsung duduk bersandar di sofa. Hal pertama yang saya lakukan setelah itu adalah merogoh tas dan mencari handphone untuk di-charge. Saya menekan home button handphone saya, “Oh handphone-nya masih nyala ternyata, masih 1%” Saya buru-buru charge sebelum handphone saya mati (entah kenapa saya kadang merasa sedih saat melihat handphone saya booting setelah mati kehabisan baterai). Setelah di-charge, entah kenapa handphone saya menjadi sangat lemot. Saya swipe kanan, dan layar baru terganti 1-2 detik kemudian. Hmm, kayaknya ada yang salah. Buru-buru saya buka task manager lalu menutup semua aplikasi yang sedang berjalan.

“Mungkin iPhone saya lelah.” Saya berpikir dalam hati.

Lalu saya memikirkan cara lain supaya iPhone saya berhenti lemot: Saya tekan tombol power handphone saya. Saya diamkan beberapa detik sampai benar-benar off, charge kembali iPhonenya. Sungguh ide yang brilian, bukan? iPhone pun booting dan muncul logo Apple, lama… sampai tiba-tiba layarnya kembali menjadi hitam, tidak masuk ke homescreen seperti biasa.

“Mungkin iPhone saya masih lelah…” saya masih santai.

Saya memutuskan untuk mengistirahatkan iPhone ini beberapa menit, lalu kembali mencoba charging. DHUAR! Ternyata percobaan kedua saya untuk membuat iPhone nyala, gagal juga. Saya coba berkali-kali restart, tekan dan tahan tombol power tanpa charge, berharap iPhone-nya bisa nyala. Gagal juga. Saya mulai panik, saya hanya memakai 1 handphone, dan handphone satu-satunya ini, mati. Saya berusaha menyelamatkan akses telfon dan SMS ke nomor saya, tapi sayangnya, di rumah, tidak ada perangkat lain yang compatible dengan nano simcard.

“Okay, girl, keep it cool.”

Saat itu, ada beberapa perkiraan penyebab iPhone mati ini, yang saya pikirkan:
1. Kabel charger bermasalah.
2. Baterai iPhone ngedrop
3. Kesalahan di operating system
Berbekal handphone candybar bersinyal 2G milik adik saya, saya nge-tweet.

 

image4

 

 

Lalu, banyak mention dari teman-teman yang mencoba memberikan alternatif yang bisa saya coba untuk iPhone mati ini.

image1

 

 

image3

 

Ada juga yang ngasih link-link tips, aw, I love you gaes.

image2
Alhamdulillah dan terima kasih teman-teman di twitter yang sudah membantu saya dengan alternatif-alternatif yang bisa saya lakukan pada iPhone mati ini. Saya coba semuanya, gagal. Saya pasrah. Keesokan harinya, saya langsung meminta seorang teman untuk men-service iPhone saya. Long story short, iPhone saya kembali aktif dan berfungsi sebagai mana mestinya, tapi berhubung error yang tejadi kemarin di memory-nya, dan iPhone saya harus di-flash, seluruh data yang ada kecuali yang synced sebelumnya di iCloud akan hilang. Untungnya, beberapa data seperti phonebook masih bisa diselamatkan, tapi, seluruh foto dan video saya hilang semua. Saya sedih sekali, karena tidak hanya punya sedikit sekali back-up-an di laptop atau harddisk eksternal. Banyak blog post di draft yang terpaksa akan saya bubuhi foto seadanya karena foto yang keburu hilang, banyak kenangan dan dokumentasi perjalanan yang mungkin akan selamanya hilang (hiks) dan archived conversation di Whatsapp dan LINE yang ikut hilang (ini penting loh buat cewek-cewek, buat re-reading old conversation sama si dia, halah) dan lain-lain. Rasanya saya ingin masuk kamar mandi segera dan menyalakan shower dan berkontemplasi atas semua hal tentang iPhone saya yang akan saya rindukan.

“Coba aja iPhone-nya rutin aku back up.”

“Coba aja kemarin iPhone-nya gak dibiarin lowbatt.”

“Coba aja kemarin lebih sabar liat iPhone lemot dan gak gatel restart, mungkin gak akan gini kejadiannya.”

“Coba aja aku gak pernah ketemu kamu…. Mungkin aku gak akan jadi Debby yang sekarang.”
Oke, maaf, yang terakhir itu curhat.

Well, bener juga kata quote-quote itu. Kita tuh kadang nggak akan pernah sadar sama apapun yang kita punya, betapa berharganya yang kita punya sekarang ini, sampai Tuhan tiba-tiba mengambil apa yang kita punya. Jadi, hal apapun itu, handphonemu, baju-baju favoritmu, abang ojeg langgananmu, pekerjaanmu, sahabat-sahabatmu, keluargamu, semua orang yang sama kamu, setiap hal yang ada pada dirimu, semuanya, jangan lupa untuk menjaganya baik-baik dan tentunya bersyukur atas itu.

We don’t know what we have until it’s gone. 🙂

Mungkin ada teman-teman yang pernah mengalami kehilangan juga? Yuk sharing dengan comment. 😀

Cheers,

Debby Permata

2 thoughts on “You’ll Miss It When It’s Gone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *