Untuk Dia, Cahayaku.

Hidup itu kadang tidak adil, begitu katanya. Hidup itu tak selamanya bahagia, tentu saja. Maka kuatlah.

Jatuh cinta itu biasa saja, mereka bilang. Sakitnya patah hati itu sementara, tenang saja. Maka tersenyumlah.

Lucu bagaimana kesedihan justru mengingatkanmu perkara bersyukur dan bahagia. Lucu bagaimana ketiadaan membuatmu menghargai arti sebuah presensi.

Cahayaku, ketika kelak kau menemui patah hati pertamamu, semoga kau tetap kuat dan cepat tersenyum lagi. Tenanglah, masih ada aku.

Cahayaku, ketika kelak hidup mulai menunjukkan taringnya, dan menakutimu. Tenang saja, kau harus berani. Tenang saja, ada banyak tangan yang akan membantumu berjalan lagi. Tenanglah, masih ada aku.

Cahayaku, mungkin kelak ada satu masa yang membuatmu bahkan meragukan diri dan mimpimu sendiri. Kau merasa semesta seolah berkonspirasi untuk menghancurkanmu, jatuh dan jatuh lagi. Tersenyumlah, kamu pasti bisa bangkit lagi. Tenanglah, masih ada aku.

Teruntuk:

Dian; pelita.

Cahayaku, cah ayuku.

Salam, Kakak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *