Seorang Pelupa Yang Tidak Bisa Berhenti Mengingat

image

 

Aku adalah potongan-potongan puzzle berantakan yang hilang beberapa bagiannya. Tidak akan pernah bisa menjadi lengkap.

Aku mencari diriku di setiap orang yang kutemui. Tapi aku tidak menemukan aku. Aku tidak akan pernah bisa menjadi lengkap.

Aku adalah debu yang kau hirup tanpa sadar saat kau mengisi ruang di paru-parumu. Ada di setiap ruas dan ruang, menemanimu.

Tapi, aku juga adalah debu yang sama, yang kau enyahkan dari atas televisi dan juga sela-sela lemari. Debu yang sama yang membuatmu menutup hidungmu saat cahaya mentari menembus jendela, dengan sangat terang, menegaskan setiap partikelku yang terbang di udara. Padahal selama ini aku memang ada, di sana. Selalu ada di sana.

Ketika terang datang, kau membenci aku.

Ketika sepi hilang, kau melupakanku.

Dan kau lupa, bukan hanya hatimu yang bisa luka akibat pahitĀ ucapan dari mulut-mulut manusia yang kurang kasihnya. Atau dari aksara-aksara bak sembilu yang tajam menusuk saat terenkripsi oleh mata.

Dan kau juga lupa, masalah bukan hanya milikmu saja. Ah, kau bahkan terlalu egois untuk sekadar bertanya-tanya tentang pikiran apa yang sedang hinggap di otak mereka; orang lain selain dirimu sendiri.

Dan kau bilang aku adalah seorang pelupa. Dan kau bilang aku adalah arus bawah laut yang berantakan tujuannya.

Mungkin kau benar.

Aku adalah seorang pelupa

yang bahkan lupa caranya untuk meluapkan luka.

Dan kau adalah seorang peluka

yang pernah merasuk sedekat sebuah pelukan.

Juni, 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *