Sebuah Pengakuan

Sebelumnya aku ingin meminta maaf, karena tak terlebih dahulu meminta izin padamu untuk membuat pengakuan ini. Kau tahu, aku juga benci harus membuat pengakuan ini, untuk aku seseorang yang lebih senang memendam perasaanku sendiri. Tapi kurasa, bagimu perkara “izin” ini juga tak penting, bukan? Buktinya, tanpa izin kau sudah tumbuhkan perasaan-perasaan ini, dalam di hati. Apa kita menyebutnya? Cinta? Sayang? Peduli? Rindu? Cemburu? Entahlah, berbagai perasaan itu berputar-putar terus dalam hatiku, terus begitu.

Mungkin kamu masih sedikit mengingat bagaimana kita bertemu? Aku, tentu saja masih. Awalnya tak pernah kupikirkan saat itu bahwa setiap detak detik bisa mengubah aku kini, menjadi begitu menyayangi lelaki sepertimu. Biar angin membawa pesan pada awan hujan, bahwa kini rintik hujan telah menemukan kemana ia akan jatuh dan bermuara. Biar angin juga membisikan setiap rindu yang kurasakan kini, kepadamu.

Benci aku mengakuinya, tapi cepat atau lambat kurasa kau akan tahu, harus tahu. Kini dan mungkin sampai nanti, aku selalu menyayangimu. Aku, memerdulikanmu meski dari jauh. Aku, merindukanmu meski belum pernah berani kukatakan. Aku, menyayangimu meski belum pernah kuungkapkan

Karena kuharap kamu adalah jawaban yang dituliskan waktu untuk menjadi cintaku kelak, menjadi masa depanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *