Perkara Bercermin

Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton salah satu reality show di televisi yang kurang lebih konsep acaranya adalah mengubah seorang wanita yang merasa dirinya buruk rupa karena sesuatu hal di fisiknya menjadi lebih cantik. Saya lupa apa judul acara tersebut, tapi saya masih ingat betul mengenai jalannya acara tersebut. Beberapa wanita yang merasa tidak pede karena kurang cantik secara fisik dikumpulkan di sebuah rumah karantina dan mereka harus mengikuti seluruh hal yang ditentukan oleh penyelenggara. Makanan dan minuman yang mereka konsumsi, semua diatur, begitupun kegiatan mereka, olahraga, beberapa operasi, dan lainnya. Termasuk, salah satu ketentuan di rumah karantina itu, bahwa seluruh peserta tidak boleh menatap cermin. Ya, di rumah tersebut sama sekali tidak ada kaca dan para peserta hanya boleh bertemu cermin setelah proses karantina benar-benar selesai, supaya mereka pangling melihat dirinya sendiri di penghujung karantina.

Mengingat reality show tersebut, saya jadi berpikir, seluruh peserta reality show tersebut tentu saja akan merasa pangling melihat dirinya sendiri di penghujung karantina, baik itu tidak ada perubahan atau ada perubahan signifikan pada dirinya. Mereka tak diberi kesempatan untuk sering bercermin untuk melihat perubahan kecil apapun dari diri mereka sendiri. Mereka sejenak dibuat seakan buta, lalu kemudian dibuka penutup matanya. “Ini loh yang sebenernya terjadi selama ini.”

 

Menurut saya, bercermin membuat kita peka. Bercermin sedikit banyaknya membuat kita ingin berubah, mengoreksi diri kita sendiri dari refleksi diri kita yang terlihat oleh mata. Sebagai wanita, saya suka bercermin. Bercermin saat menggunakan make up, di depan wastafel saat sikat gigi, atau sekadar bercermin sebentar memastikan poni saya tak berspasi. Cermin tidak pernah berbohong. Mereka merefleksikan apa yang benar-benar ada di depannya.

 

Tapi, saya rasa, bercermin tidak melulu harus menggunakan cermin. Hal ini tiba-tiba saya pikirkan saat saya sedang menunggu boarding sendirian, waktu saya hendak pergi ke Semarang beberapa waktu lalu. Di bandara, saya berjalan-jalan ke sana ke mari, menunggu jam boarding yang masih cukup lama. Saat saya berjalan, banyak sekali orang-orang yang saya temui, kakek-nenek yang berpegangan tangan sambil duduk menunggu dengan sabar di salah satu pojok ruangan, sepasang suami istri muda sedang sibuk makan sambil tetap celingukan memerhatikan dua anaknya yang masih kecil yang berlarian memutari meja restoran, seorang ibu yang sedang menasihati anaknya tapi anaknya sibuk sendiri dengan gadget yang ia pegang, beberapa pengusaha muda yang sibuk haha-hihi sambil memegang hand phone di tangan dan memerhatikan laptop yang ia letakan di meja, di depannya.

 

Melihat banyak wajah, melihat banyak kejadian di bandara saat itu, membuat saya tiba-tiba berkhayal. Akankah saya melihat diri saya sendiri nanti seperti orang-orang  yang saya temui hari ini? Akan jadi apakah saya nanti, 5 tahun, 10 tahun, atau beberapa tahun lagi? Akankah saya melihat diri saya sebagai beberapa pengusaha-sibuk-sendiri yang baru saya temui? Seperti apakah saya saat menjadi orang tua? Pertanyaan-pertanyaan dan khayalan itu tiba-tiba berhenti. Perkara masa depan, bukannya sebagian memang masih misteri? “Ingat, jangan terlalu sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dan rencana visionermu sampai lupa mensyukuri detik ini dan melihat refleksimu sekarang, Deb.” begitu kira-kira yang saya pikirkan kala itu. Seperti apakah saya sekarang? Apa saja yang sudah saya lakukan? Apa saja akan saya lakukan?

 

Mari kita berkhayal bahwa hidup itu benar-benar seperti cermin, jujur, kita lihat apa yang benar-benar terjadi, kita mendapatkan pantulan persis dari apa yang kita lakukan….

 

….Akankah kamu menyukai dirimu sendiri apabila dipertemukan dengan orang yang sifatnya benar-benar persis sama sepertimu?

 

Pernah ada yang bilang ini sama saya. “….Yang penting nggak jahatin orang.” Dan saya bener-bener setuju sama dia.

Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. 🙂

One thought on “Perkara Bercermin

  1. Menarik. Entah apa yang tetiba membuat saya berkunjung pada tulisan ini. Tapi saya lebih tertarik pada kalimat terakhir. Jika toh memang kalimat itu kita asumsikan sebagai sebuah kalimat yang benar, maka yang lebih mendekati kalimat tersebut bukanlah “bercermin” tapi menjadi “cermin”. Cermin adalah tentang merefleksikan. Terserah apa yang ingin kita refleksikan, terserah pula sudut dan jarak pandang kita. Jika tak percaya, cobalah kita bergeser satu dua langkah ke samping, pun ke belakang. Kita akan mendapat hasil refleksi yang berbeda. Dalam jarak begitu dekat kita bisa menghitungi jumlah jerawat kita, namun mundurlah beberapa meter di belakang. Jerawat kita tampak mengecil bahkan hilang, dan bisa jadi fokus refleksi menjadi berubah bukan kepada jerawat kita lagi. Itulah titik “permasalahan” dalam bercermin. Suatu hegemoni ke-aku-an untuk mendapat refleksi dari apa yang kita inginkan. Taruhlah kita sedang make-up. Sesungguhnya kita hanya ingin memperkosa cermin agar memperlihatkan kecantikan kita atau sederhananya, kita memaksa cermin untuk mendapatkan pengakuan kita bahwa kita cantik. Buktinya, setelah merasa kita cantik, cermin akan segera kita tinggalkan.

    Saya lebih tertarik untuk menjadi cermin. Cermin sangat setia dengan tugas refleksi yang dia kerjakan. Jika dia sudah tak bisa merefleksikan kahanan, maka dia bukan cermin lagi. Manusia adalah lipatan proses cermin. Semakin tinggi ilmunya, semakin pulalah kasih dan kebaikan yang ia berikan. Seolah manusia adalah cermin dari kematangan ilmu dan kedewasaan hidupnya. Dan tentu menjadi manusia cermin, adalah dengan bercermin. Bercermin kepada kesejatian manusia itu sendiri.

    Cermin adalah proses tabur tuai yang sangat cepat. Dan manusia cermin, adalah manusia yang hanya menjadi jalan dari sekian proses kebaikan. (actually, saya merefleksikan tulisan ini pengamatan saya terhadap konsep conservation of energy di pelajaran stromung mechanik di jerman dl).

    but anyway, tulisanmu bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *