Dari Bromo ke Kali Oyo #BrikPiknik

Bromo

Sunrise, atau sunset?” tanya seorang teman, setengah menodong.

Dan saya, menjawab quick question tersebut dengan mantap. “Sudah pasti, sunrise.”

Mengapa sunrise? Menurut saya, sunrise itu penuh energi. Berbanding terbalik dengan senja yang penuh sendu, senja yang entah mengapa selalu saya korelasikan dengan “perpisahan”, matahari terbit adalah saat-saat energi positif dan juga harapan baru muncul di awal hari, setidaknya itu yang saya rasakan tentang sunrise.

Lucky me, untuk pertama kalinya saya bisa menyaksikan sendiri momen magis ufuk timur ini langsung dari puncak Gunung Bromo, Malang, gunung berapi aktif yang mempunyai ketinggian kurang lebih 2.329 meter di atas permukaan laut. Kira-kira pukul 03:30, saya dan juga teman-teman sudah sampai di Puncak Penanjakan, bersiap menanti sang surya muncul. Hawa dingin pagi itu, sudah tidak kami gubris, kami fokus menikmati sunrise yang perlahan muncul jelas di ufuk timur. Kami semua sibuk mengabadikan momen magis ini menggunakan ponsel dan juga kamera yang kami punya.

Ini adalah beberapa foto yang berhasil saya abadikan melalui kamera ponsel saya.

image1(14)

image2(5)

image3(5)

Tiang listrik saja kelihatannya, photoable, ya?

Bukan sekadar berburu sunrise, kami, seluruh murid kelas A #BrikPiknik juga menikmati indahnya Bromo di Pasir Berbisik dan juga Puncak Kawah Bromo. Kami semua menuju ke kawah Bromo dengan berkuda, karena lokasi kawah yang cukup jauh dan juga sangat berdebu apabila ditempuh dengan berjalan kaki. Berkuda di luasnya padang pasir Bromo adalah pengalaman yang sangat luar biasa, rasanya saya seperti tokoh-tokoh superhero wanita yang siap membela keamanan dan ketertiban kawasan Bromo. (sebentar, superhero zaman sekarang emang ada yang masih naik kuda ya? Oke, saya ganti kata-kata “superhero wanita” menjadi “pendekar silat wanita di padepokan”)

image5

 

Kali Oyo

Rasa gagal move on saya dari #BrikPiknik kelas A ternyata membawa saya untuk kembali ikut di #BrikPiknik kelas B, tentunya bukan menjadi peserta tapi bertugas menjadi mimin bersama @jejakasirik @fitritash @praw dan the one and only, Om Owsom kita, @idberry. (Oh ya, featuring Kuncen Modem 4G juga, @si_enthon9)

image3(4)

Kegiatan #BrikPiknik kelas A yang “gunung banget” di Malang ternyata cukup berbeda apabila dibandingkan dengan kegiatan di Jogja bersama #BrikPiknik kelas B yang ternyata “sungai banget”. Di hari kedua, #BrikPiknik kelas B, agenda kami adalah river tubing mengarungi Kali Oyo, Gunung Kidul. Saya sangat excited dan tidak sabar ingin merasakan langsung bagaimana rasanya river tubing di Kali Oyo.

“Kira-kira nanti sungainya seberapa panjang sih?” saya bertanya pada salah satu pemandu wisata river tubing Kali Oyo.

“Ya, kira-kira 1,5 jam sampai 2 jam lah sampai ujung.” Jawab Mas-Mas pemandu.

Whoa! Lama juga ya, saya membayangkan betapa panjangnya sungai yang harus kita lalui kali ini.

Namun, rasanya 1,5 sampai 2 jam rela kami habiskan bila harus dipaksa menikmati pemandangan di Kali Oyo yang sungguh indah dan juga menentramkan mata ini. Di kanan kiri berdiri kokoh bebatuan yang memiliki struktur yang sedap dipandang mata, seolah menjaga Kali Oyo ini dari sisi kanan dan kiri. Di beberapa sudut pun terdapat air terjun kecil yang mengalir di antara bebatuan dan pepohonan di sepanjang sungai. Indah sekali.

Belum jauh duduk-duduk santai di atas ban dan juga sedikit berenang-renang, kami melewati satu buah jembatan yang tingginya kira-kira 6m, dan tentunya, kami tidak menyianyiakan keberadaan jembatan ini, kami semua semangat untuk melompat dari jembatan. Seru!

Sambil berenang-renang santai, kami menemukan lagi tebing yang cukup tinggi, kira-kira tingginya 10m. Sayang kan, kalau tidak melompat juga dari atas tebing tinggi ini. Akhirnya kami berlima yaitu saya, Kak Drina @Cloudrine , Kak Ifan @ifnhr, Mas Nino @nino_collino dan Bang Ikal @monstreza memutuskan menjadi the chosen one(s) yang berani lompat dari atas tebing.

image5(1)

image1(16)

Sebelum lompat, kami selfie dulu. Karena selfie lebih baik daripada selfish.

Ternyata, momen 3 detik di udara sebelum kaki menyentuh air saat melompat adalah momen-momen yang luar biasa sentimental. Dalam 3 detik itu, tiba-tiba kejadian-kejadian penting dalam hidup saya selama 21 tahun ke belakang muncul secara bergantian di kepala. Jatuh cinta – persahabatan – keluarga – patah ha…. BYUR!!! Dan lamunan 3 detik saya buyar dengan tamparan air sungai Kali Oyo ke badan saya yang cukup bikin bokong dan paha perih-perih pegel beberapa saat. (Pro Tips: Saat lompat, usahakan posisi badan lurus, tangan lurus mendekap pelampung, kaki lurus dan jangan seperti posisi duduk, kalau tidak mau dapat ‘tamparan’ seperti saya.)

 

3 Hari Timeline Bawel

Menjadi bagian dari keluarga #BrikPiknik adalah salah satu hal yang sangat membahagiakan bagi saya. Tiga hari, piknik bersama orang-orang dari berbagai profesi, rentang usia berbeda, dan tentunya masing-masing membawa ide kreatif yang berbeda-beda juga. Fotografer, cah ayu (ini istilah OmDed), seksolog, tokoh-tokoh fenomenal digital, pejuang digital agency¸ programmer, blogger senior, pejuang korporat, penggiat startup, sampai pejuang skripsi seperti saya kumpul menjadi satu dengan misi yang sama, piknik bermanfaat bersama Indosat.

Saat OmDed pertama kali mengajak saya untuk ikut di #BrikPiknik kelas A. Saya tentunya meng-“iya”-kan ajakan OmDed tersebut dengan semangat. Karena saya tahu, piknik sama OmDed selalu asyik, inovatif dan juga penuh kejutan. Benar saja, konsep #BrikPiknik dari OmDed ini menurut saya sangat brilian, dan tentunya pemilihan peserta yang lintas profesi ini sangat memudahkan kita untuk menjadi sangat kreatif untuk membuat konten. Tanpa perlu mengenal dekat sebelumnya, dalam tiga hari terbukti kami semua dapat berkolaborasi menghasilkan konten video, foto dan juga tulisan yang bagus. Semuanya serba mengalir, dengan adanya pembagian kelas menjadi 3 regu untuk saling unjuk kebolehan dalam 3 hari untuk membuat konten dengan sebaik mungkin, menurut saya adalah challenge yang sudah dipersiapkan OmDed dan Indosat dengan baik, karena dengan challenge ini, kita semua dipaksa berpikir cepat, berpikir kreatif untuk menghasilkan konten yang keren dalam waktu singkat. Bayangkan, di hari terakhir, kami di-challenge ­untuk mengerjakan konten-konten video dan blogpost dengan waktu kurang dari 1 jam, dan ternyata kami bisa melakukannya dengan baik!

Jadi, destinasi piknik yang asyik, kombinasi teman #BrikPiknik antar profesi yang owsom, Pak Kepsek Bu Kepsek yang mengayomi, dan tentunya challenge yang menggelitik menurut saya adalah kombinasi yang luar biasa brilian untuk membuat masing-masing timeline social media kami ‘berisik’ dengan sendirinya.

“Deb, lo enak deh piknik mulu. Itu postingan lo #BrikPiknik ngapain aja sih? Kok seru?”

Itu adalah tipikal pertanyaan yang sering kali muncul dari teman-teman twitter atau teman Path saya setelah melihat kicauan dan postingan saya di social media dengan tagar #BrikPiknik. Dan saya konsisten menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama:

“#BrikPiknik itu ajang kita piknik, belajar, sekaligus networking yang luar biasa. Bisa hepi-hepi, belajar dan juga sharing sama peserta lain tentang banyak hal, salah satunya bikin konten. Bukan cuma itu, di setiap piknik pun Indosat selalu menyiapkan sharing session yang bisa buat kita belajar banyak hal lainnya di luar piknik dan content making. Oh ya, yang tadinya udah kenal jadi deket, yang udah deket makin bisa rapet gara-gara #BrikPiknik. Selain itu juga, Indosat dan #BrikPiknik pasti maksa-maksa kita untuk pulang dengan tangan yang tidak kosong. Selain bawa ilmu, dapet temen baru, pastinya dapet juga hadiah yang keren-keren.” *pamer XiaoMi Redmi Note 2 hadiah dari Indosat*

Terima kasih banyak OmDed dan Indosat, terima kasih teman-teman #BrikPiknik, terima kasih semuanya. Kalian semua owsom! <3

image1(13)

image1(17)

Love,

Debby Permata

September, 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *